Langsung ke konten utama

Kapan
            Pernah gak sih kalian berpikir
 “Kapan ya aku bisa serajin dia?”
“Kapan ya aku bisa seprestatif dia?”
“Kapan ya aku bisa sealim dia?”
“Kapan ya aku bisa se syar’i dia?’
 “Kapan ya aku bisa se kalem dia?”
“Kapan ya, aku bisa sebaik dia?”
 Dan “Kapan ya aku bisa ngafal Qur’an?”
        Pertanyaan-pertanyaan itu sering banget muncul dibenakku. Entah berupa kecemasan atau justru sebuah renungan. Rasanya, pertanyaan kapan akan selalu menuntut jika aku hanya diam. Harusnya, ada sebuah tindakan yang diambil. Bukan diam, membiarkan pertanyaan kapan selalu menghantui setiap kesendirian. Harusnya, ada sebuah jawaban yang bisa aku persembahkan. Bukan justru diam, membiarkan pertanyaan kapan selalu beranak pinak tanpa penumpasan. Bukankah pertanyaan kapan akan terjawab ketika waktu telah dimanfaatkan untuk sebuah jawaban. Bukankah pertanyaan kapan akan terjawab dengan sebuah  kepastian. Entah itu sekarang, nanti, besok, atau lusa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulisan random malam ini Beberapa waktu ini, aku ngelihat story orang-orang yang dulu menyatakan serius ingin menikahiku, atau laki-laki yang dulu pernah mencoba mendekatiku. Satu per satu dari mereka mulai menemukan seseorang yang membuatnya merasa utuh. Seneng sekaligus menjawab pertanyaanku dulu sih. Apakah mungkin? ada orang yang mau bertahan, menungguku tanpa sebuah kepastian sampai akhirnya aku benar-benar menyelesaikan pendidikanku lalu mengiyakan dia untuk mengetuk pintu orangtuaku. Apakah mungkin, ada orang yang sesabar itu, menunggu aku yang bisa saja ditunggu orang lain juga? Aku tidak terlalu yakin dengan itu. Aku tidak pernah mengiyakan orang-orang yang datang untuk serius sebab pendidikanku masih berlangsung. Pun tidak pernah mau agar dia menungguku hingga selesai. Rasanya, ucapan bersedia ditunggu akan membuatku terikat, tidak bebas dengan ikatan yang Allah tidak suka. Orang orang sering menyebutnya sebagai komitmen. Huh, ada ada saja. Menurutku, kata komitmen sama saja ...
 Hidup yang terus berjalan Gak kerasa banget, hampir 6 tahun aku menempuh pendidikan. Rasanya seperti baru kemarin aku masuk kuliah. Sejauh ini, aku sangat menikmati hidupku yang kata orang orang sudah seharusnya memiliki partner.  But, im still single without someone special until right away.  I just love to grow with myself, dan sampai saat ini, kayaknya terlalu nyaman dengan hidup sendiri. Bahaya juga sih hahahaa Hidup tanpa memiliki pacar, memiliki gebetan, atau bahkan seseorang dengan komitmen saling menunggu. i dont have those things. Setiap kali ada yang mengajakku untuk "berkomitmen" sembari menunggu masa studiku selesai, aku selalu menolaknya karena merasa "untuk apa?" aku gak mau terikat. Bagiku, berkomitmen sama halnya dengan pacaran secara halus huee. Sedangkan pacaran adalah sebuah hal yang bertentangan dengan value serta prinsip yang aku pegang. Jadi, aku selalu bilang. "Mohon maaf, untuk saat ini aku tidak mau terikat dengan siapapun. Tidak mau d...