Langsung ke konten utama

Menata Hati

Gadis itu teralih dengan hal-hal superfisial. Katanya, ada kawan karib yang telah berubah. Hatinya pilu melihat perubahan itu. Ditanyanya dengan halus kawan itu
"Kau kenapa? Seperti ada yang salah denganmu? Kau lebih pendiam, dan tak ingin berbicara lebih lama denganku. Ada apa sebenarnya?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya lelah."
Gadis itu terdiam mendengar jawaban kawannya. Merasa ada yang salah.

Semakin lama, ia semakin merasa kawannya tak lagi sama. Ada jarak di antara mereka. Gadis itu lelah dengan racun yang masuk secara intervena ia merasa saatnya menjaga jarak. Biarkan saja apa yang terjadi padanya menjadikannya sebagai pelajaran, bahwa sesayang apapun kau pada kawan. Ingatlah, sayang itu tidak boleh melebihi sayangmu kepada Allah.

Mungkin Allah sedang cemburu, karena hati gadis itu sudah terpaut erat dengan sahabatnya.

Ah sudahlah, tak payah memikirkan hal yang di luar nalar. Hanya membuat lelah hati dan pikiran. Lebih baik kau perbaiki diri sendiri dan pergi mengaji, tak payar repot memikirkan prasangka oranglain terhadapmu. Kalaupun ada yang salah padamu, silakan evaluasi diri sendiri lalu pergi dari pada memancing emosi, lebih baik kau mawasi diri sendiri. Bertakwalah kepada Allah, Tuhan semesta Allah.

Sungguh, di dunia ini tidak ada yang abadi termasuk perkara hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulisan random malam ini Beberapa waktu ini, aku ngelihat story orang-orang yang dulu menyatakan serius ingin menikahiku, atau laki-laki yang dulu pernah mencoba mendekatiku. Satu per satu dari mereka mulai menemukan seseorang yang membuatnya merasa utuh. Seneng sekaligus menjawab pertanyaanku dulu sih. Apakah mungkin? ada orang yang mau bertahan, menungguku tanpa sebuah kepastian sampai akhirnya aku benar-benar menyelesaikan pendidikanku lalu mengiyakan dia untuk mengetuk pintu orangtuaku. Apakah mungkin, ada orang yang sesabar itu, menunggu aku yang bisa saja ditunggu orang lain juga? Aku tidak terlalu yakin dengan itu. Aku tidak pernah mengiyakan orang-orang yang datang untuk serius sebab pendidikanku masih berlangsung. Pun tidak pernah mau agar dia menungguku hingga selesai. Rasanya, ucapan bersedia ditunggu akan membuatku terikat, tidak bebas dengan ikatan yang Allah tidak suka. Orang orang sering menyebutnya sebagai komitmen. Huh, ada ada saja. Menurutku, kata komitmen sama saja ...
 Manusia yang selalu merasa kurang Ada kalanya, manusia menjadi begitu mengasihankan senyum tipis sambil meringis ketika menghadapi kepahitan hidup merasa selalu kurang padahal Tuhan selalu memberi kenikmatan lebih Batinnya tertutup oleh perasaan kurang, Kurang cantik lah,  kurang mulus lah kurang putih lah, kurang! Kurang! dan selalu kurang! Padahal Tuhan sudah berpesan dalam kalamnya وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". — Surat Ibrahim Ayat 7 Selalu merasa kurang! kurang! dan Kurang! Kufur kamu! Tuhan memberi banyak nikmat, tapi sadarmu hanya pada kurangnya saja. Bagaimana mungkin hidupmu akan bahagia?  Jika merasa cukup dan bersyukur dengan pemberian-Nya saja enggan? Bagaimana mungkin hidupmu ba...