Langsung ke konten utama

Merekam Perasaan


Hari ini, banyak sekali kejadian yang membuat saya harus ektra kerja keras melawan rasa malas. Terlalu banyak agenda yang harus dilakukan. Namun, di antata itu semua, ada list aktivitas yang membuat saya sedikit sumringah, acara di Yayasan Anak Bangsa. 

Hari ini, anak-anak di yayasan membuat saya sadar bahwa saya harus meluangkan waktu untuk mereka. Antusias mereka membuat hati saya berbunga-bunga, meski ricuh dan pengulangan kalimat "Kakak tolong," "kakak lem kan," "Kakak aku duluan yang antri" selalu terdengar setiap detik, tetapi saya senang. Saya bahagia berada di antar mereka semua. 

Rasanya, saya tidak ingin mengakhiri moment menyenangkan itu bgitu saja. Namun, sayang. Amanah lain sedang menunggu di kampus. Baiklah, saya cukupkan upaya untuk merekam perasaan yang saya rasakan saat ini. Sampai jumpa di tulisannail lainnya. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulisan random malam ini Beberapa waktu ini, aku ngelihat story orang-orang yang dulu menyatakan serius ingin menikahiku, atau laki-laki yang dulu pernah mencoba mendekatiku. Satu per satu dari mereka mulai menemukan seseorang yang membuatnya merasa utuh. Seneng sekaligus menjawab pertanyaanku dulu sih. Apakah mungkin? ada orang yang mau bertahan, menungguku tanpa sebuah kepastian sampai akhirnya aku benar-benar menyelesaikan pendidikanku lalu mengiyakan dia untuk mengetuk pintu orangtuaku. Apakah mungkin, ada orang yang sesabar itu, menunggu aku yang bisa saja ditunggu orang lain juga? Aku tidak terlalu yakin dengan itu. Aku tidak pernah mengiyakan orang-orang yang datang untuk serius sebab pendidikanku masih berlangsung. Pun tidak pernah mau agar dia menungguku hingga selesai. Rasanya, ucapan bersedia ditunggu akan membuatku terikat, tidak bebas dengan ikatan yang Allah tidak suka. Orang orang sering menyebutnya sebagai komitmen. Huh, ada ada saja. Menurutku, kata komitmen sama saja ...
 Hidup yang terus berjalan Gak kerasa banget, hampir 6 tahun aku menempuh pendidikan. Rasanya seperti baru kemarin aku masuk kuliah. Sejauh ini, aku sangat menikmati hidupku yang kata orang orang sudah seharusnya memiliki partner.  But, im still single without someone special until right away.  I just love to grow with myself, dan sampai saat ini, kayaknya terlalu nyaman dengan hidup sendiri. Bahaya juga sih hahahaa Hidup tanpa memiliki pacar, memiliki gebetan, atau bahkan seseorang dengan komitmen saling menunggu. i dont have those things. Setiap kali ada yang mengajakku untuk "berkomitmen" sembari menunggu masa studiku selesai, aku selalu menolaknya karena merasa "untuk apa?" aku gak mau terikat. Bagiku, berkomitmen sama halnya dengan pacaran secara halus huee. Sedangkan pacaran adalah sebuah hal yang bertentangan dengan value serta prinsip yang aku pegang. Jadi, aku selalu bilang. "Mohon maaf, untuk saat ini aku tidak mau terikat dengan siapapun. Tidak mau d...